Senin, 01 Juli 2013

artikel Mudah Duduk tanpa melihat



MUDAH DUDUK TANPA MELIHAT


Terlalu mudah duduk dibangku besar (DPR) atau jabatan tinggi tanpa melihat ?
Melihat disini diartikan dengan berbagai macam hal, kita perhatikan sesama di panggung besar politik indonesia, banyak sekali orang-orang yang berbondong-bondong memperebutkan posisi dan jabatan tinggi di negeri ini .
Semua ini dilakukan dengan berbagai macam cara , seperti membagikan uang cuma-cuma , sembako , bantuan kesehatan , jaminan modal , mendapatkan pendidikan dengan gratis dan masih banyak lagi. Kebanyakan pula mereka akan meberikan harapan-harapan dan  janji-janji yang cukup menggiurkan untuk masyarakat khalayak bawah.
Apakah terpikir oleh kita, mengapa mereka sebagai pencalon lebih memberikan harapan dan perhatian serta bantuan hanya kepada mereka para masyarakat khalayak bawah ? mengapa tidak kepada masyarakat khalayak atas juga ?
Ya , jelas menjadi pertanyaan , tapi umunnya hal tersebut bukan pertanyaan bagi mereka bahkan hal tersebut akan menjadi sebuah pemikiran yang pantas. Pemikiran disini karena menurut mereka dari segi perekonomian masyarakat Indonesia pada umunya lebih banyak masyarakat yang perekonomiannya lemah (kurang mampu ) , dibandingkan orang yang perekonomiannya memadai.
Ini menjadi salah satu alasan kuat mengapa mereka melakukan hal-hal tersebut. Karena semakin besarnya bantuan , perhatian dan harapan kepada masyarakat khalayak bawah , maka akan semakin besar peluang mereka untuk mendapatkan tempat duduk dibangku besar politik. Dan hal ini pun sudah menjadi tradisi di setiap pencalonannya.
Apakah tidak terpikir lagi oleh kita, hal ini hanya terjadi pada saat tertentu, misalnya pemilihan Presiden, Gurbenur , Galikota , Lurah , Rt , Rw ?
Mengapa tidak terjadi setiap bulannya saja ?
Memang sudah ada anggaran, namun anggaran tersebut terkadang tidak sampai kepada masyarakat bawah, sehingga masih banyak yang harus merasakan sulitnya perekonomian, seperti peminta, kelaparan. Hal ini benar-benar bukan menjadi sebuah rahasia lagi, bahkan menjadi perbincangan disetiap harinya dan terus menjadi permasalahan yang tak kunjung menemukan titik ujung.
Apalagi dengan seringnya disiarkan diberbagai stasiun televisi tentang masyarakat bawah, ini membuktikan masih banyaknya masyarakat yang masih membutuhkan. Tetapi seperti diawal hal ini akan ditanggapi dan akan bermunculan bantuan pada saat-saat yang disebutkan tadi.
Sebenarnya tidak mudah menjadi orang nomer satu di negeri ini , butuh energi yang banyak pula. Tidak dapat dipungkiri glontoran uang pun menjadi penghias disetiap penggerakannya. Apalagi yang mengunakan partai hal ini sangat berpengaruh besar bagi para calon DPR, Presiden , Gurbenur atau Walikota. Apalagi KPU menetapkan 9 bulan. Apa tidak terlalu lama ? pastinya selama 9 bulan itu akan banyak pengeluaran uang yang pastinya sangat banyak . Dan dibalik itu semua juga mereka membutuhkan orang-orang yang mendukung dan membantu. Seperti orang yang menyebarkan pamflet-pamflet dijalan , spanduk besar , membuat kaos berlogokan calon, terkadang ada juga orang yang melakukan kampanye dengan melibatkan orang yakni pemuka agama dengan berbicara dilapangan atau tempat ibadah, agar menarik simpati bahwa partai yang dikampayekan seolah-olah taat kepada agama tapi lihat kenyataannya ujung-ujungnya pasti korupsi ?
Ya, hal itu terbukti dengan banyaknya yang tertangkap oleh KPK (Kantor Pemberantas Korupsi).  Dikebanyakan adalah anggota DPR dan anggota partai itu sendiri. Contohnya seperti kasus yang menimpah selebritis indonesia mantan puteri Indonesia tahun 2001 sekaligus politikus anggota fraksi partai demokrat yang tertangkap karena menggelapkan uang terkait wisma atlet di Palembang. Bagaimana tidak memalukan hal seperti itu ,padahal orang tersebut pernah membintangi sebuah iklan yang anti terhadap korupsi namun beda dengan kenyataan. Dan kemudian misalnya pada kejadian yang terkadang memang belum ada survei seperti ini sih yang pastinya , tapi namanya orang indonesia masih banyak percaya klenik-klenik seperti itu, tujuan yang mereka inginkan jelas agar mendapatkan simpati yang sebanyak-banyaknya dengan memasang susuk, (saya sendiri tidak tahu soal kaya hal-hal seperti itu)
ya tapi bagaimanapun bentuknya kita hargailah usaha mereka walaupun sedikit menyimpang dari hukum yang ada di Indonesia.
Setelah semua hal itu , akan diketahui siapa yang akan berhak menepati tempat duduk dibangku besar politik indonesia. Dan lagi-lagi pasti mereka yang sudah mendapatkan apa yang di inginkan pasti akan lupa akan harapan yang mereka janjikan, terkadang putus bantuan dan perhatian dengan alasan timbulnya masalah-masalah politik yang baru seperti korupsi dan lain-lain. Setelah itu akan muncul berbagai masalah baru seperti demo disana-sini , pemberontakan dan lain-lain dan ujung-ujungnya semua kampanye yang telah dii umbarkan tidak terwujud.
Itulah mengapa sebabnya pemerintah orang-orang tertinggi duduk dibangku besar politik tanpa melihat kebawah, siapa orang-orang yang membantu, yang ikut serta. Jadi pantaskah kita menyebut menyebut mereka dengan sebutan orang yang mudah duduk tanpa melihat ?
Justru pemikiran itu ada didalam pikiran kita, karena kita semua memiliki pemikiran yang berbeda-beda pula.
Dan mulai sekarang alangkah baiknya kita bersama-sama dengan teliti memilih calon yang tidak memberi harapan , dengan segala sesuatu yang mengiurkan yang  kenyataannya hanya sebuah harapan belaka yang tidak terbukti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar